
Imam al-Ghazali dalam Asrār al-Ḥajj menjelaskan bahwa talbiyah menuntut tajarrud, yaitu melepaskan diri dari maksiat dan kezaliman, beliau berkata:
وَاعْلَمْ أَنَّ التَّلْبِيَةَ إِجَابَةُ دَعْوَةِ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنِ الْعَبْدُ مُتَجَرِّدًا عَنِ الظُّلْمِ وَالْمَعَاصِي خَافَ أَنْ يُقَالَ لَهُ: لَا لَبَّيْكَ وَلَا سَعْدَيْكَ.
Artinya:“Ketahuilah bahwa talbiyah adalah jawaban atas panggilan Allah. Jika seorang hamba tidak melepaskan diri dari kezaliman dan maksiat, maka dikhawatirkan akan dikatakan kepadanya: ‘Tidak diterima talbiyahmu dan tidak ada kebahagiaan bagimu’.”
Talbiyah tanpa tajarrud hanya menjadi ritual lisan, kehilangan ruh dan maknanya.Talbiyah dan Penyucian Jiwa Talbiyah sejati akan mendorong pelakunya untuk melakukan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).
Firman Allah dalam QS. Asy-Syams: 9–10قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya:“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
Talbiyah adalah langkah awal dalam membersihkan jiwa dari kesombongan, cinta dunia berlebihan, dan dosa-dosa yang menghalangi kedekatan dengan Allah.
Rasulullah Saw menegaskan bahwa haji yang diterima adalah haji yang berdampak pada perubahan akhlak.
Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
(رواه البخاري ومسلم)
Artinya:“Barang siapa berhaji dan tidak berkata kotor serta tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.”
Ini menunjukkan bahwa talbiyah yang benar melahirkan komitmen moral dan spiritual, bukan sekadar kesalehan simbolik.



